Tuesday, 25 October 2011

Isim Dhamir Mustatir wajib dan jaiz » Alfiyah Bait 60



وَمِنْ ضَمِيْرِ الْرَّفْعِ مَا يَسْتَتِرُ ¤ كَافْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ

Dhomir Mustatir ada pada sebagian dhomir Rofa’. Seperti pada contoh: افْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ (ket: افْعَلْ = Fi’il ‘Amar untuk satu mukhotob, taqdirannya انت . dan أوَافِقْ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mutakallim, taqdirannya انا. dan نَغتَبِطْ = Fi’il Mudhori’ untuk Mutakallim Ma’al Ghair, taqdirannya نحن . dan تُشْكرُ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mukhotob, taqdirannya انت)
–·•Ο•·–

Telah dijelaskan pada pelajaran dahulu bahwa dhamir ada dua golongan 1. Isim Dhamir Bariz (mempunyai bentuk lafazh) dan 2. Isim Dhamir Mustatir (tidak mempunyai bentuk lafaz).
Dhamir Mustatir (ضامر مستتر) atau dhamir yang tidak berbentuk Lafazh, ada dua macam 1. Wajib Mustatir dan 2. Jaiz Mustatir
1. Wajib Mustatir واجب الاستتار
Pengertian dhamir yang Wajib Mustatir adalah:  Isim Dhamir Mustatir dimana posisinya tidak bisa digantikan oleh Isim Zhahir pun oleh Isim Dhamir Munfashil. contoh:

أَقُوْمُ بِوَاجِبِيْ نَحْوَ قَرَابَتِيْ

aku menunaikan kewajibanku pada keluargaku
Contoh أقوم pada kalimat diatas, mempunyai Fa’il (subjek) yang berupa Isim Dhamir Mustatir yang wajib. takdirannya adalah  أنا (saya), maka posisi dhamir ini tidak bisa digantikan isim zhahir  semisal أقوم خالد. Atau tidak bisa digantikan isim dhamir munfashil semisal أقوم أنا dengan maksud sebagai Fa’ilnya, bisa juga dilafalkan demikian, akan tetapi ia bukan Fail tapi sebagai taukid bagi damir mustatir.
Isim Dhamir wajib mustatir menempati pada 10 kategori kalimah. lihat tabel berikut :
ISIM DHAMIR WAJIB MUSTATIR
NOTEMPAT WAJIB MUSTATIRCONTOH
1Fi’il Amar untuk satu mufrad (laki-laki)

فَــاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu
2Fi’il Mudhari’ yang diawali Hamzah Mudhara’ah untuk Mutakallim (aku lk/pr)

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى الله

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah
3Fi’il Mudhari’ yang diawali Nun Mudhara’ah untuk Mutakallim Ma’al Ghair (kami lk/pr)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik
4Fi’il Mudhari’ yang diawali Ta’ Mudhara’ah untuk Mukhatab Mufrad (kamu satu laki-laki)

تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ

Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki
5Isim Fi’il Amar

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jagalahdirimu
6Isim Fi’il Mudhari’

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan“ah”
7Fi’il Ta’ajub

مَا أَحْسَنَ الصِّدْقَ

Alangkah indahnya kenyataan ini
8Isim Masdar yang menggantikan tugas Fi’ilnya

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan kepada kedua orang tua, berbuat baiklah!
9Fi’il-Fi’il Istitsna’ seperti خلا، عدا، حاشا

حَضَرَ الضُّيُوْفُ خَلاَ وَاحِداً

Tamu-tamu sudah hadir selain satu orang
10Perangkat Istitsna semisal ليس

مَا أُنْهِرَ اَلدَّمُ وَذُكِرَ اِسْمُ اَللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلْلَيْسَ اَلسِّنَّ وَالظُّفْرَ

Apa yang dapat menumpahkan darah dengan diiringi sebutan nama Allah, makanlah, selain gigi dan kuku
2. Jaiz Mustatir جائز الاستتار
Pengertian dhamir yang Jaiz Mustatir adalah:  Isim Dhamir mustatir dimana posisinya bisa digantikan oleh Isim Zhahir pun oleh Isim Dhamir Munfashil. yaitu kalimah Fi’il untuk Mufrad Ghaib (subjek orang ketiga tunggal male) contoh:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung.
kalimah Fi’il untuk Mufrad Ghaibah (subjek orang ketiga tunggal female) contoh:

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ

Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan
kalimah Isim Fi’il Madhi. contoh:

الصَّدِيْقُ هَيْهَاتَ

jauh sekali dari kebenaran.
Isim Sifat yang murni, semisal Isim Fa’il. Contoh:

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ

Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka
Maka lafazh مُصَدِّقٌ terdapat dhamir Mustatir Jaiz takdirannya adalah هُوَ tertuju kepada lafazh رَسُولٌ

Sunday, 16 October 2011

Isim Goir Munshorif


Isim Goir Munshorif

اَلْمَمْنُوعُ مِنَ الصَّرْفِ / غَيْرُ الْمُنْصَرِفِ
(Isim Ghoirul Munshorif)
Isim Ghoirul Munshorif adalah isim yang tidak boleh ditanwin dan dikasroh.
Contoh: عُثْمَانُ – مَسَاجِدُ – عُمَرُ – عَائِشَةُ

Syarat-syarat isim ghoirul munshorif:
  1. Tidak sebagai mudhof (disandarkan pada isim yang lain)
    Contoh: صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدَ
    مَرَرْتُ بِعُمَرَ
    Apabila isim ghoirul munshorif ini sebagai mudhof, maka batal hukumnya.
    Contoh: صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدِ هِم
  2. Terbebas dari alif dan lam
    Contoh: صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدَ
    مَرَرْتُ بِعُمَرَ
    Apabila isim ghoirul munshorif ini memakai alif dan lam, maka batal hukumnya.
    Contoh: صَلَّيْتُ فِى المَسَاجِدِ

Kelompok isim yang masuk dalam kategori ghoirul munshorif
  1. Bentuk jamak yang berpola مَفَاعِلُ (shighoh muntahal Jumu’)
    Contoh: مَسَاجِدُ – مَقَاعِد
  2. Isim maqshur yang berjenis muannats
    Contoh: كُبْرَى – حُبْلَى
  3. Isim mamdud yang berjenis muannats
    Contoh: صَحْرَاءُ – حَمْرَاءُ
  4. Nama perempuan
    Contoh: مَرْيَمُ – عَائِشَةُ
  5. Nama yang berpola فُعَلُ
    Contoh: عُمَرُ – زُحَلُ
  6. Nama yang diakhiri dengan tambahan alif dan nun ان
    Contoh: عُثْمَانُ – سَلْمَانُ
  7. Nama orang asing (selain arab) / nama ajam
    Contoh: إِبْرَاهِيْمُ – إِسْمَاعِيْلُ

Catatan:
  1. Isim maqshur yang bukan kelompok muannats, maka tidak termasuk isim ghoirul munshorif.
    Contoh: هُدًى – فَتًى
  2. Semua nama orang yang diakhiri dengan ta marbuthoh maka dia ghoirul munshorif walaupun digunakan untuk nama orang laki-laki.
    Contoh: مُعَاوِيَةُ – طَلْحَةُ
  3. Nama negara dan kota dikategorikan sebagai nama perempuan sehingga temasuk kelompok ghoirul munshorif.
    Contoh: بَغْدَادُ – مِصْرُ

Tuesday, 11 October 2011

الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ


الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ

Bab Kalam dan Sesuatu yang Kalam tersusun darinya

كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim

وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ

Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam
Kitab Nadzom
Kitab Nadzom Alfiyyah KLIK DOWNLOAD

KALAM

Definisi Kalam menurut Istilah Ulama Nahwu adalah Sebutan untuk Lafadz yang memberi pengertian satu faedah yaitu baiknya diam. Sehingga yang berkata dan yang mendengar mengerti tanpa timbul keiskalan.
  • Lafadz adalah nama jenis yang mencakup Kalam, Kalim, atau Kalimat, termasuk yang Muhmal (tidak biasa dipakai) ataupun yang Musta’mal (biasa dipakai) contoh perkataan Muhmal: دَيْزٌ Daizun, tidak mempunyai arti. Contoh perkataan Musta’mal عَمْرٌو ‘Amrun, ‘Amr nama orang.
  • Mufid (yang memberi pengertian) untuk mengeluarkan Lafdz yang Muhmal, atau hanya satu Kalimat, atau Kalim yang tersusun dari tiga kalimat atau lebih tapi tidak memberi pengertian faedah baiknya diam, seperti Lafadz: اِنْ قَامَ زَيْدٌ Apabila Zaid berdiri.
Susunan Kalam pada dasarnya Cuma ada dua: 1. ISIM + ISIM, 2. FI’IL + ISIM. Contoh pertama: زيد قائم Zaid orang yg berdiri. Contoh kedua قام زيد Zaid telah berdiri. Sebagaimana contoh Kalam yang disebutkan oleh Mushannif pada baris baitnya, yaitu lafadzاستقم ISTAQIM! Artinya: berdirilah! Pada lafadz ini terdiri dari Fiil ‘Amar dan Isim Fa’il berupa Dhomir Mustatir (kata ganti yang disimpan) FI’IL + ISIM takdirnya adalah استقم أنت ISTAQIM ANTA, artinya: berdirilah kamu! maka contoh ini memenuhi criteria untuk disebut Kalam yaitu lafadz yang memberi pengertian suatu faidah. Sepertinya Mushannif mendefinisikan kalam pada bait syairnya sebagai berikut: Kalam adalah Lafadz yang memberi pengertian suatu faidah seperti faidahnya lafadz استقم.
Bab Kalam
Bab Kalam Ibnu Aqil

KALIM

Adalah nama jenis yang setiap satu bagiannya disebut kalimat, yaitu: Isim, Fi’il dan Huruf. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri tanpa terikat waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT ISIM. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri dengan menyertai waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT FIIL. Jika Kalimat itu tidak menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri, melainkan kepada yang lainnya, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT HURUF. Walhasil Kalim dalam Ilmu Nahwu adalah susunan dari tiga kalimat tsb atau lebih, baik berfaidah ataupun tidak misal: إن قام زيد jika Zaid telah berdiri.

KALIMAT

Adalah lafadz yang mempunyai satu makna tunggal yang biasa dipakai. Keluar dari definisi Kalimat adalah lafadz yang tidak biasa dipakai semisal دَيْزٌ Daizun. Juga keluar dari definisi Kalimat yaitu lafadz yang biasa dipakai tapi tidak menunjukkan satu makna, semisal Kalam.

QAUL

Adalah mengumumi semua, maksudnya termasuk Qaul adalah Kalam, Kalim juga Kalimat. Ada sebagian ulama berpendapat bahwa asal mula pemakaian Qaul untuk Lafadz yang mufrad (tunggal).
Selanjutnya Mushannif menerangkan bahwa menyebut Kalimat terkadang yang dimaksudkan adalah kalam. Seperti lafadz لا إله إلا الله Orang Arab menyebut Kalimat Ikhlash atau Kalimat Tahlil.
Sebutan Kalam dan Kalim, terkadang keduanya singkron saling mencocoki satu sama lain, dan terkadang tidak. Contoh yang mencocoki keduanya: قد قام زيد Zaid benar-benar telah berdiri. contoh tersebut dinamakan Kalam karena memberi pengertian, mempunyai faidah baiknya diam. Dan juga dinamakan Kalim karena tersusun dari ketiga personil Kalimat. Contoh hanya disebut Kalim: إن قام زيد Apabila Zaid berdiri. Dan contoh hanya disebut Kalam: زيد قائم Zaid orang yang berdiri.
Referensi: Kitab Syarah Ibnu Aqil

الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ


الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ

BAB KALAM DAN SESUATU YANG KALAM TERSUSUN DARINYA

PENGERTIAN KALAM, KALIM, KALIMAT, QOUL

كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim.

وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ

Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam.

BENTUK KALIMAT-KALIMAT DAN CIRI-CIRINYA

بِالجَرِّ وَالتّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ ¤ وَمُسْنَدٍ لِلإسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ

Dengan sebab Jar, Tanwin, Nida’, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimat Isim menjadi berhasil.

بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي ¤ وَنُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْـــلٌ يَنْجَلِي

Dengan tanda Ta’ pada lafadz Fa’alta dan lafadz Atat, dan Ya’ pada lafadz If’ali, dan Nun pada Lafadz Aqbilanna, Kalimat Fi’il menjadi jelas.

سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ ¤ فِعْـــلٌ مُـضَــارِعٌ يَلِي لَمْ كَـيَشمْ

Selain keduanya (ciri Kalimah Isim dan ciri Kalimah Fi’il) dinamaan Kalimah Huruf, seperti lafadz Hal, Fi, dan Lam. Ciri Fi’il Mudhori’ adalah dapat mengiringi Lam, seperti lafadz Lam Yasyam.

وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ ¤ بِالنُّـــوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ

Dan untuk ciri Fi’il Madhi, bedakanlah olehmu! dengan tanda Ta’. Dan namakanlah! Fi’il Amar dengan tanda Nun Tauqid (sebagi cirinya) apabila Kalimah itu difahami sebagai kata perintah.

وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنّوْنِ مَحَلْ ¤ فِيْهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ

Kata perintah jika tidak dapat menerima tempat untuk Nun Taukid, maka kata perintah tersebut dikategorikan Isim, seperti Shah! dan Hayyahal!

Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’, Fi’il Amar


Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’, Fi’il Amar

Kata kerja atau Kalimah F’il terbagi tiga:
1. Fi’il Madhi – Kata kerja Bentuk Lampau:
Kata kerja menunjukkan kejadian bentuk lampau, sebelum masa pembicara. Seperti قَرَأَ “Telah membaca”. Tanda-tandanya adalah dapat menerima Ta’ Fa’il dan Ta’ Ta’nits Sakinah. Seperti قَرَأْتُ “Aku telah membaca” dan قَرَاَتْ “Dia (seorang perempuan) telah membaca”.
2. Fi’il Mudhori’ – Kata kerja bentuk sedang atau akan:
Kata kerja menunjukkan bentuk kejadian saat berlangsung atau akan berlangsung, di masa pembicara atau setelahnya.
Dapat dipastikan kejadian itu terjadi saat berlangsung dengan dimasukkannya Lam Taukid dan Ma Nafi. Seperti:
قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ
Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
…Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati…
Dapat dipastikan kejadian itu terjadi akan berlangsung dengan dimasukkannya س, سوف, لن, أن, ان. Seperti:
سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَن تَرَانِي
berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلاًّ مِّن سَعَتِهِ
Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya.
Tanda-tanda Fi’il Mudhori’ adalah: bisa dimasuki لَمْ seperti contoh: لَمْ يَقْرَأْ artinya: tidak membaca. Ciri-ciri Kalimah Fi’il Mudhari’ adalah dimulai dengan huruf Mudhoro’ah yang empat yaitu أ – ن – ي – ت disingkat menjadi أنيت.
Huruf Mudhara’ah Hamzah dipakai untuk Mutakallim/pembicara/orang pertama tunggal/Aku. contoh أضرب
Huruf Mudhara’ah Nun dipakai untuk Mutakallim Ma’al Ghair/pembicara/orang pertama jamak/Kami. contoh نضرب
Huruf Mudhara’ah Ya’ dipakai untuk Ghaib Mudzakkar/orang ketiga male, tunggal, dual atau jamak/dia atau mereka. contoh يضرب, يضربان, يضوبون, يضربن
Huruf Mudhara’ah Ta’ dipakai untuk Mukhatab secara Mutlaq/orang kedua male atau female, juga dipakai untuk orang ketiga female tunggal dan dual. contoh تضرب, تضربا, تضربون , تضربين, تضربن
3.  Fi’il Amar – Kata kerja bentuk perintah :
Kata kerja untuk memerintah sesuatu yang dihasilkan setelah masa pembicara. contoh: اقْرأْ = bacalah.
Tanda-tandanya adalah dapat menerima Nun Taukid beserta menunjukkan perintah. contoh اقْرَأَنَّ = sungguh bacalah.
Pelajaran terkait
  • Fiil Madhi, Fiil Mudhori’, Fiil Amar
  • Isim Fiil
  • Isim Aswat
  • Mujarrod dan Mazid
  • Jamid dan Mutashorrif
  • Hamzah Washal dan Hamzah Qotho’
    • Shahih dan Mu’tal
    • Tam dan Naqis
    • Lazim dan Muta’addi
    • Mabni Ma’lum dan Mabni Majhul
    • Pembahasan Taukid dan Hubungannya
    • Mu’rob dan Mabni
    • Fi’il Nashab dan letaknya
    • Fi’il Jazm dan letaknya
    • Fi’il Rofa’ dan letaknya
    • I’rob Takdir Kalimah Fiil